PP Muhamadiyah Sebut Iran dan Truki Paling Diuntungkan

SIKAT MIRING - Sekeretaris Jendral PP Muhamadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, respon negara Timur Tengah cenderung lambat dalam merespon pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem.
Hal ini pun akan membuka panggung bagi dua negara di kawasan tersebut, yaitu Turki dan Iran karena kedua negara itu dinilai mampu menyatakan sikap tegas dan mengecam pernyataan Trump, sementara itu Arab Saudi dinilainya semakin kehilangan repotasi politiknya.
“Dalam konteks persaingan di dunia Islam malah menguntungkan Iran dan Turki. Arab Saudi kemudian sekarang ini kehilangan reputasi politiknya karena sikap politiknya yang lembek terhadap sikap politik AS ini,” kata Abdul saat ditemui di Jakarta, Sabtu (9/12).
Abdul melanjutkan kesempatan ini merupakan momentum bagi Iran dan Turki untuk tampil dan menujukan pada dunia Internasional bahwa mereka adalah lawan politik yang serius bagi AS. Selain itu, perlawanan terhadap rencana Trump juga disebut Abdul akan mendapatkan perlawanan dari Uni Eropa.
“Kalau ada konflik di Timur tengah yang justru menerima limbahnya itu negara-egara Eropa, negara Eropa yang paling banyak menerima pengungsi dari Timur tengah,” jelas Abdul.
Hal senada pun dikatakan oleh dosen ilmu politik UIN Jakarta Badrus Sholeh. Di tempat yang sama dengan Abdul, Badrus menyatakan bahwa Uni Eropa akan menjadi kelompok non muslim yang paling keras menentang rencana Trump.
Organisasi lainnya, baik Organisasi Konfederasi Islam (OKI) atau sekelas Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun, disebutnya takkan bisa mengimbangi manuver Trump.
“Saya kira uni Eropa menjadi satu-satunya organisasi yang bisa mengimbangi Amerika. Sejak Trump terpilih, Jerman dan Prancis sudah menyatakan kepemimpinan Amerika diragukan oleh dunia internasional,” jelas Badrus.
“Saya kira mereka (Uni Eropa) sudah menyiapkan itu (melawan AS untuk masalah Jerusalem) dan Uni Eropa sudah bertindak cepat dalam keputusan Trump ini,” tutup pria yang juga menjabat Direktur Pusat Kajian Timur Tengah UIN Jakarta ini.



Post a Comment