Soal Daya Beli, Komisi XI: Konsumsi Rumah Tangga Menurun Sebesar 4,93 Persen
SIKAT MIRING - Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengatakan bahwa data badan pusat statistik (BPS) yang menyebutkan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2017 hanya sebesar 5,06 persen tidak dapat terbantahkan.
Terlebih, disebutkan konsumsi rumah tangga yang menurun dari 4,95 persen menjadi 4,93 persen.
“Penurunan itu ditandai dengan tekanan pada daya beli masyarakat yang diukur dari konsumsi rumah tangga yang hanya mencapai 4,95 persen. Di kuartal III lebih parah lagi, konsumsi rumah tangga terjun ke angka 4,93 persen. Padahal, ekonomi tercatat tumbuh sebesar 5,06 persen,” kata Heri dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (10/11).
Masih dikatakan Heri, setidaknya ada dua hal yang sedang terjadi terkait daya beli yang terus mengalami tekanan tersebut. Pertama, sedang terjadi distorsi pada daya beli masyarakat yang tak bisa dibantah.
Distorsi itu, ia katakan terjadi dan dirasakan terutama pada 40 persen masyarakat kelas bawah atau miskin.
“Pada kelas menengah juga kurang-lebih sama. Itu dapat dilihat pada pergeseran dan penghematan konsumsi karena uang yang terbatas,” sebut politisi Gerindra itu.
Yang Kedua, sambung Heri, meski ekonomi nasional dilaporkan tumbuh di kuartal III, namun itu tidak memiliki trickle down effect yang mengakibatkan sektor riil terus tertekan.
“Saya mensinyalir bahwa ekonomi tersebut hanya bisa dinikmati oleh kelas atas yang saat ini menguasai hampir 39 persen pendapatan nasional,” pungkasnya.
Terlebih, disebutkan konsumsi rumah tangga yang menurun dari 4,95 persen menjadi 4,93 persen.
“Penurunan itu ditandai dengan tekanan pada daya beli masyarakat yang diukur dari konsumsi rumah tangga yang hanya mencapai 4,95 persen. Di kuartal III lebih parah lagi, konsumsi rumah tangga terjun ke angka 4,93 persen. Padahal, ekonomi tercatat tumbuh sebesar 5,06 persen,” kata Heri dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (10/11).
Masih dikatakan Heri, setidaknya ada dua hal yang sedang terjadi terkait daya beli yang terus mengalami tekanan tersebut. Pertama, sedang terjadi distorsi pada daya beli masyarakat yang tak bisa dibantah.
Distorsi itu, ia katakan terjadi dan dirasakan terutama pada 40 persen masyarakat kelas bawah atau miskin.
“Pada kelas menengah juga kurang-lebih sama. Itu dapat dilihat pada pergeseran dan penghematan konsumsi karena uang yang terbatas,” sebut politisi Gerindra itu.
Yang Kedua, sambung Heri, meski ekonomi nasional dilaporkan tumbuh di kuartal III, namun itu tidak memiliki trickle down effect yang mengakibatkan sektor riil terus tertekan.
“Saya mensinyalir bahwa ekonomi tersebut hanya bisa dinikmati oleh kelas atas yang saat ini menguasai hampir 39 persen pendapatan nasional,” pungkasnya.




Post a Comment